Sabtu, 25 Desember 2010

makalah agama 5

BAB II

PEMBAHASAN





II.1. Pengertian Pemimpin dan Kepemimpinan

Pemimpin dan kepemimpinan ibarat mata uang, dapat berfungsi jika kedua sisinya utuh dan saling mengisi. Bila salah satunya tidak ada maka tidak dapat berfungsi sebagaimana yang kita harapkan. Untuk menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah, memerlukan perjuangan, pengorbanan danpembelajaran tentang hal-hal yang berhubungan dengan pemimpin dan kepemimpinannya itu.



II.1.1.Pengertian Pemimpin

Pemimpin adalah pribadi yang memiliki ketrampilan teknis, sehingga mampu mempengaruhi atau menggerakan orang lain untuk bersama-sama melakukan suatu aktifitas demi tercapainya satu atau beberapa tujuan organisasi tersebut. menggerakan orang bermakna, menjadikan para bawahan sadar akan tugas yang diembannya tanpa menunggu perintah atasannya. Ini bukanlah hal yang mudah, sehingga seorang pemimpin perlu memiliki kecakapan, ketekunan, keuletan, pengalaman serta kesabaran, dan juga mampu mengetahui watak bawahannya. Lebih jauh mengenai syarat-syarat seorang pemimpin kami bahas sebagai berikut:

Syarat-syarat seorang pemimpin:

1. Intelegensi, yaitu kemampuan dalam mengobservasi pengetahuan,dan menghadapi situasi

baru.Dengan intetegensi tinggi memungkinkan seorang pemimpin untuk mengambil

keputusan secara tepat dan cepat.

2. Karakter, adalah sifat-sifat kepribadian yang berhubungan dengan nilai-nilai. Karakter ini

dapat dilihat dari kesungguhan, kejujuran dan kepercayaaan.

3. Kesiapsiagaan adalah selalu awas dan waspada terhadap segala kemungkinan yang terjadi.

Selain tiga syarat yang disebutkan diatas, untuk dapat menjadi seorang pemimpin yang baik, hendaknya memiliki sifat-sifat yang lebih dari seseorang yang dipimpinnya, yaitu:

a. Kelebihan kemampuan dalam mempergunakan rasio atau pikiran.

b. Kelebihan dalam bidang rohaniah.

c. Kelebihan dalam bidang jasmaniah.



II.1.2. Pengertian Kepemimpinan

Istilah kepemimpinan berasal dari kata dasar pimpin yang artinya bimbing atau tuntun. Kepemimpinan ialah suatu seni untuk menggerakkan orang lain untuk mrncapai tujuan tertentu atau tujuan bersama. Kepemimpinan juga dapat diistilahkan sebagai ilmu tentang cara membimbing atau menuntun. Berikut merupakan ciri- ciri kepemimpinan yaitu:

1. Kepemimpinan mengarah pada kemampuan individu, yaitu kemampuan dari seorang

pemimpin, bukan mengarah pada sistem atau mekanisme kerja.

2. Kepemimpinan adalah kualitas interaksi antara si pemimpin dengan pengikut dalam

situasi tertentu. Hal ini mengandung makna bahwa kepemimpinan menekankan pada

pengaruh terhadap pengikut.

3. Kepemimpinan menggantungkan diri pada sumber-sumber yang ada dalam dirinya

( kemampuan dan kesanggupan) untuk mencapai tujuan.

4. Kepemimpinan diarahkan untuk mewujudkan keinginan si pemimpin, meskipun pada

akhirnya mengarah pada tercapainya tujuan organisasi.

5. Kepemimpinan lebih bersifat hubungan personel yang berpusat pada diri si pemimpin,

pengikut dan situasi.







II.2. Tugas dan Wewenang Seorang Pemimpin

Tugas dan wewenang atau hak dan kewajiban seseorang adalah dua hal yang sulit untuk dipisahkan karena tidak ada tugas yang dapat dikerjakan seseorang tanpa adanya wewenang. Dan sebaliknya, tidak ada wewenang yang diperoleh seseorang tanpa mendapat tugas atau kewajiban yang mesti dikerjakan. Seorang pemimpin hendaknya melaksanakan tugas sesuai dengan wewenangnya.



II.2.1.Tugas Seorang Pemimpin

Tugas seorang pemimpin meliputi dua bidang utama yaitu:

1. Menyangkut pekerjaan yang harus diselesaikan.

2. Menyangkut kekompakan orang-orang yang harus dipimpinnya

Tugas yang berhubungan dengan pekerjaan harus diselesaikan agar masyarakat yang

dipimpin dapat mencapai tujuannya. Sedangkan tugas yang berhubungan dengan kekompakkan bawahan dibutuhkan agar hubungan antar orang yang bekerjasama menyelesaikan pekerjaan tersebut berjalan lancar dan penuh dinamika.

Tugas pemimpin menyangkut pekerjaan yang harus diselesaikan, meliputi :

1. Mengambil inisiatif.

2. Mengatur arah dan kegiatan- kegiatan.

3. Menciptakan arus informasi timbal balik yang bermanfaat untuk mengembangkan dinamika dalam mencapai tujuan.

4. Memberi dukungan, tuntunan dan motivasi kepada bawahannya.

5. Mampu menilai gagasan-gagasan selama proses pencapaian tujuan.

6. Menyimpulkan segala gagasan yng muncul, meringkas lalu menyimpulkannya sebagai landasan untuk mregembangkan pemikiran lebih lanjut.

Tugas pemimpin yang berhubungan dengan kekompakkan orang-orang yang dipimpin meliputi:

1. Bersikap hangat dan bersahabat, demi meningkatkan semangat bekerjasama.

2. Mengungkapkan perasaan dan ikut seperasaan dengan orang-orang yang dipimpinnya.

3. Mendamaikan dan merukunkan orang-orang (bawahan) yang bersitegang satu sama lain.

4. Mampu berkompromi dengan orang-orang yang dipimpinnya.

5. Memperlancar,bersedia mempermudah keikutsertaan mereka yang dipimpinnya.

6. Memasang aturan/ tata tertib yang membantu kehidupan berorganisasi.



II.2.2. Wewenang Seorang Pemimpin

Wewenang adalah hak untuk bertindak, menggerakkan orang-orang atau baeahannya untuk mau mengikuti dan melaksanakan tugas-tugas yang diperintahkan. Berikut dalah wewenang seorang pemimpin:

1. Menentukan segala perencanaan, persiapan, keputusan dan penerapan yang dilakukan demi tercapainya tujuan kegiatan.

2. Mengelonpokkan kegiatan-kegiatan yang telah dicantumkan dalam perencanaan.

3. Mengontrol jalannya kegiatan termasuk orang-orang yang dipimpinnya.





II.3. Peranan Nitisastra Terkait Ajaran Kepemimpinan

Nitisastra berasal dari bahasa Sansekerta, Niti yang berarti kemudi, pimpinan, politik dan sosial etik, pertimbangan dan kebijakan, serta Sastra yang berarti perintah, ajaran, nasihat, aturan, teori atau tulisan ilmiah. Nitisastra berarti ajaran tentang kepemimpinan. Pengertian nitisastra secara umum yaitu ilmu pengetahuan tentang suatu negara yang bertujuan mempelajari suatu negara baik dari segi politik tata negara, tata pemerintahan dan tata kemasyarakatan dengan meletakkan nilai-nilai moral agama Hindu yang universal sebagai landasannya.

Berikut adalah pedoman-pedoman kepemimpinan menurut konsep Hindu:



II.3.1. Sad Waraning Rajaniti (Sad Sasana)

Adalah enam syarat atau sifat utama dan kemampuan yang harus dimiliki seorang raja yaitu:

1. Abhicanika, artinya seorang raja atau pemimpin harus mampu menarik perhatian positif rakyatnya.

2. Prajna, artinya seorang pemimpin atau raja harus bijaksana.

3. Utsaha, artinya seorang pemimpin atau raja harus memiliki daya kreatif yang benar.

4. Atma Sampad, artinya seorang pemimpin harus bermoral yang luhur.

5. Sakya Samanta, artinya seorang pemimpin atau raja harus mengontrol bawahannya dan sekaligus memperbaiki hal-hal yang dianggap kurang baik.

6. Aksudra Paritsaka, artinya seorang raja harus mampu memimpin sidang para mentrinya dan dapat menarik kesimpulan yang bijaksana sehingga diterima oleh pihak yang mempunyai pandangan yang berbeda-beda.



II.3.2. Catur Kotamaning Nrpati

Adalah empat sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Bagian-bagiannya adalah:

1. Jnana Wisesa Sudha, artinya memiliki pengetahuan yang luhur dan suci. Maksudnya seorang raja harus mengerti dan menghayati ajaran-ajaran agama.

2. Kaprahitaning Praja, artinya raja harus menunjukkan belas kasihan terhadap rakyatnya, yang maksudnya seorang raja harus betul-betul menolong rakyat yang menderita dngan perbuatan yang nyata.

3. Kawiryan, artinya raja harus berwatak pemberani. Maksudnya adalah untuk menegakkan pengetahuan yang suci, dan menolong rakyat yang menderita harus dilaksanakan dengan penuh keberanian.

4. Wibawa, artinya seorang raja harus berwibawa terhadap bawahan dan rakyatnya.



II.3.3. Tri Upaya Sandi

Adalah tiga upaya untuk menghubungkan diri dengan rakyat, yaitu :

1. Rupa artinya seorang raja harus mengamati wajah daripada rakyatnya, untuk mengetahui gambaran batin dari rakyatnya.

2. Wangsa artinya suku atau bangsa. Raja harus mengetahui susunan masyarakatnya(stratifikasi sosial), untuk menentukan sistem pendekatan yang harus dilakukan di masyarakat.

3. Guna artinya seorang raja harus mengetahui tingkat pengertian, pengetahuan dan keterampilan atau akal oleh masyarakat.



II. 3.4. Panca Upaya Sandi

Adalah lima upaya yang harus dilakukan oleh seorang raja dalam mengahadapi musuh Negara maupun dalam menyelesaikan persoalan yang menjadi tanggungjawab raja, yang terdiri dari :

1. Maya artinya seorang raja harus melakukan upaya dalam mengumpulkan data atau permasalahan yang belum jelas kedudukan dan profesinya.

2. Upeksa artinya upaya untuk meneliti dan menganalisa semua bahan berupa data dan informasi untuk dapat meletakkan setiap data dan masalah menurut proporsinya.

3. Indra Jala artinya suatu upaya untuk mencarikan jalan keluar dan memecahkan setiap permasalahan yang sedang dihadapi.

4. Wikrama artinya suatu upaya untuk melaksanakan upaya yang telah dirumuskan pada tingkatan Indra Jala.

5. Lokita artinya tindakan yang ditempuh harus selalu mendapat pertimbangan akal sehat dan logis atau masuk akal dan tidak boleh bertindak berdasarkan emosi.



II.3.5. Upaya Guna

Enam macam sifat bersahabat yang harus dikembangkan oleh seorang pemimpin sebagai dasar yang baik dan utama dalam kepemimpinannya, yaitu :

1. Sidhi yaitu kemampuan yang bersahabat.

2. Wigrha yaitu kemampuan untuk memisahkan setiap masalah serta mempertahankan hubungan baik.

3. Wibawa yaitu memiliki kewibawaan.

4. Winarya yaitu cakap dalam memimpin.

5. Gasraya yaitu kemampuan untuk menghadapi lawan atau musuh yang kuat.

6. Stanha yaitu dapat mempertahankan hubungan yang baik.



II.3.6. Asta Brata

Asta Brata adalah delapan landasan moral bagi seorang pemimpin. Bagian-bagian dari Asta Brata yaitu sebagai berikut:

1. Indra Brata: para pemimpin hendaknya mengikuti sifat-sifat Indra sebagai dewa hujan. Hujan adalaah sumber kemakmuran. Seorang pemimpin hendaknya seperti air yang berasal dari bawah teris menguap turun kembali menjadi hujan untuk menghidupkan isi ala mini. Artinya seorang pemimpin yang pada mulanya berasal dari manusia biasa, setelah naik menjadi pemimpin janganlah lupa kepada rakyat yang dipimpin.

2. Yama Brata: pemimpin hendaknya mengikuti sifat dewa Yama, yaitu menciptakan hukum,menegakkan hukum dan memberikan hukuman secara adil kepada setiap orang yang bersalah.

3. Surya Brata: pemimpin hendaknya memberikan penerangan secara adil dan rata kepada seluruh rakyat dan selalu berbuat hati-hati, serta berusaha meningkatkan semangat perjuangan hidup seluruh rakyatnya.

4. Chandra Brata: pemimpin hendaknya selalu bias memperlihatkan wajah tenang dan berseri-seri sehingga rakyat yakin akan kebesaran jiwa dari pimpinannya.

5. Bayu Brata: selalu mengetahui dan menyelidiki keadaan yang sebenarnya, terutama rakyat yang hidupnya paling menderita, bagaikan Dewa Bayu yang selalu berhembus dan mencapai segala tempat.

6. Danadha (Kuwera) Brata: pimpinan harus bijaksana dalam mempergunakan dana dan uang, jangan boros karena dapat merugikan Negara dan Rakyat.

7. Baruna Brata: pimpinan hendaknya dapat membersihkan segala bentuk penyakit masyarakat seperti pengangguran, kenakalan remaja, pencurian, pengacauan politik.

8. Agni Brata: pimpinan harus memiliki sifat ksatria yang disertai dengan semangat yang tinggi berkobar-kobar bagaikan api.



II. 4 Tipe-tipe Kepemimpinan

II.4.1. Tipe-tipe Kepemimpinan menurut DR. Kartini Kartono :

1. Tipe Kharismatis

Tipe ini memiliki kekuatan energi, daya tarik dan perbawa yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga mempunyai pengikut yang sangat besar jumlah dan pengawal yang bias dipercaya. Karena dianggap mempunyai kekuatan gaibdan kemampuan yang diperoleh sebagai karunia Tuhan. Serta memiliki inspirasi, keberanian dan keyakinan teguh akan pendirian diri sendiri. Tokoh besar dari tipe ini adalah Jengis Khan, Hitler, Gandhi, John F. Kennedy, Ir. Sukarno, Margarete Tatcher dan Gorbachev.

2. Tipe Paternalistis

Tipe ini adalah tipe kepemimpinan yang kebapakan, dengan sifat seperti :

a) Menganggap bawahannya manusia yang belum dewasa.

b) Bersikap terlalu melindungi

c) Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan sendiri.

d) Hampir tidak pernah memberikan kesempatan pada bawahnya untuk berinisiatif.

e) Hampir tidak pernah memberikan bawahannya mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas bawahannya.

f) Selalu bersikap maha tau dan maha benar.

3. Tipe Militeristis

Tipe ini memiliki sifat kemiliteran, namun ini lebih mirip kepemimpinan otoriter.

a. Lebih banyak menggunakan perintah komando terhadap bawahannya, keras, sangat otoriter, kaku dan kurang bijaksana.

b. Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan

c. Menyenangi formalitas seperti upacara ritual dan tanda kebesaran yang berlebihan

d. Menuntut adanya disiplin keras dan kaku dari bawahannya

e. Tidak menghendaki saran, usul, sugesti dan kritik dari bawahannya

f. Komunikasi hanya berlangsung searah

4. Tipe Otokratis

Otokrat berasal dari kata autos artinya sendiri, dan kratos, artinya kekuasaan, kekuatan. Jadi otokrat berarti penguasa absolute. Tipe kepemimpinan ini mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan yang mutlak harus dipatuhi. Pimpinannya selalu mau berperan sebagai pemain tunggal. Setiap perintah dan kebijakkan ditetapkan tanpa berkonsultasi dengan bawahannya. Pemimpin tipe ini selalu berdiri jauh dari anggota kelompoknya, jadi sifatny menyisihkan diri dan eksklusivisme,senantiasa ingin berkuasa absolute, tunggal dan merajai keadaan.

5. Tipe Laissez Faire

Pemimpin praktis tidak memimpin,dia membiarkan semua orang dan kelompoknya berbuat semau sendiri. Pemimpin tidak berpartisipasi sedikitpun dalam kegiatan kelompoknya. Dia merupakan pemimpin symbol dan biasanya tidaak memiliki keterampilan teknis. Pemimpin yang bersangkutan tidak memiliki wibawa dan tidak bias mengontsol anak buahnya. Tidak mampu melaksanakan koordinasi kerja dan menciptakan suasana kerja yang kooperatif.

6. Tipe Populistis

Prof. Peter Worsley dalam bukunya “ The Third World” mendefinisikan kepemimpinan populistis sebagai kepemimpinan yang dapat membangunkan solidaritas rakyat, berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisional,jugaa kurang mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan luar negeri.

7. Tipe Administratif/ Eksekutif

Adalah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrative secara efektif. Pemimpinnya sendiri mampu menggerakkan dinamika dan modernisasi dan pembangunan. Dengan kepemimpinan administratif diharapkan adanya perkembangan teknis yaitu teknologi, industry, mamagemen modern dan perkembangan social ditengah masyarakat.

8. Tipe Demokratis

Tipe demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Kepemimpinan demokratis biasanya berlangsung secara mantap dengan cirri-ciri sebagai berikut

a. Organisasi dengan segenap bagian-bagiannya berjalan lancer, sekalipun pemimpin tersebut tiadak ada di kantor.

b. Otoritas sepenuhnya didelegasikan kebawah dan masing-masing orang menyadari tugas serta kewajibannya.

c. Tujuan-tujuan kesejahteraan, dan kelancaran kerjasama dari setiap kelompok diutamakan.

d. Pemimpin demokratis berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat dinamisator dan kerjasama, demi pencapaian tujuan organisasi dengan cara yang paling cocok dengan jiwa kelompok dan siyuasinya.



II.4.2.Tipe-Tipe Kepemimpinan Menurut Drs. Soekarno K.

1. Kepemimpinan Pribadi

Tipe dimana pemimpin secara langsung mengadakan kontak dengan bawahannya. Tidak ada jenjang-jenjang hierarki, pemimpin ingin mengetahui segala hal sampai yang sekecil-kecilnya.Aktifitas pemimpin ini dapat menimbulkan kepemimpinan sentralistis.

2. Kepemimpinan Non-Pribadi

Dalam hal ini pemimpin tidak secara langsung mengadakan kontak dengan bawahannya melainkan melalui saluran jenjang-jenjang hierarki (subordinasi).

3. Kepemimpinan Autoriter

Tipe kepemimpinan dimana pemimpin menganggap bahwa kepemimpinan merupakan hak pribadinya, tiudak ada orang yang boleh ikut campur.

4. Kepemimpinan Demokratis

Tipe kepemimpinan dimana pemimpinnya selalu membuka pintu dan menghargai saran-saran, pendapat, nasihat-nasihat dari para koleganya melelui forum musyawarah untuk mufakat guna mencapai kata sepakat.

5. Kepemimpinan Paternalistis

Tipe kepemimpinan dimana pemimpin bertindak sebagai ayah, pengasuh, pembimbing dari para koleganya.





II.5. Kepemimpinan Yang Ideal Menurut Nitisastra

sebagai suatu ajaran tentang konsep kepemimpinan menurut Hindu, didalam Nitisastra juga terdapat pandangan-pandangan Hindu mengenai konsep pemimpin yang ideal. Berikut adalah pandangan Hindu tentang konsep pemimpin yang Ideal:



II.5.1. Nawa Natya

Adalah 9 sifat dan sikap teguh serta bersusila yang harus dimiliki oleh para pemimpin dan para pembantunya, guna mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan bangsa dan Negara yang dipimpinnya, yang terdiri dari :

a. Pradnya Nidagda yaitu bijaksana dan mahir dalam berbagai ilmu sehingga dengan demikian akan menjadi orang yang bijaksana serta teguh dalam pendiriannya.

b. Wira Sarwa Yudha yaitu pemberani, pantang menyerah dalam segala peperangan maupun tantangan

c. Pramartha yaitu memiliki sifat yang mulia dan luhur

d. Dhirotsaha yaitu tekun dan ulet dalam mensukseskan setiap pekerjaan

e. Pragivakya yaitu pandai berbicara di depan umum maupun berdiplomasi

f. Sama Upaya yaitu selalu setia pada janji yang pernah diucapkan

g. Laghawangartha yaitu tidak bersifat pamrih atau loba terhadap harta benda

h. Wruh Ring Sarwa Bastra yaitu pintar dan bijaksana dalam mengatasi segala kerusuhan yang terjadi

i. Wiweka yaitu dapat membeda-bedakan mana yang benar dan yang baik

Merupakan sesuatu yang sulit untuk menjadi pemimpin yang ideal, mengingat secara alami seorang pribadi manusia dilahirkan dengan kekurang sempurnaan. Hanya Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang maha sempurna. Namun, demikian adalah menjadi kewajiban manusia untuk menyempurnakan pribadinya atas tuntutan Sang Pencipta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar