Sabtu, 25 Desember 2010

makalah agama 2

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 TRI HITA KARANA

2.1.1 PENGERTIAN

Tri Hita Karana, berasal dari bahasa Sansekerta. Tri berarti tiga dan hita karana berarti penyebab kebahagiaan untuk mencapai keseimbangan dan keharmonisan. Tri hita karana terdiri dari: Perahyangan yaitu hubungan yang seimbang antara manusia dengan Tuhan yang Maha Esa, Pawongan artinya hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia lainnya, dan Palemahan artinya hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya Konsep ini muncul berkaitan erat dengan keberadaan hidup bermasyarakat di Bali. Berawal dari pola hidup Tri Hita Karana ini muncul berkaitan dengan terwujudnya suatu desa adat di Bali. Bukan saja berakibat terwujudnya persekutuan teritorial dan persekutuan hidup atas kepentingan bersama dalam bermasyarakat, juga merupakan persekutuan dalam kesamaan kepercayaan untuk memuja Tuhan atau Sang Hyang Widhi. Dengan demikian suatu ciri khas desa adat di Bali minimal mempunyai tiga unsur pokok, yakni: wilayah,masyarakat,dan tempat suci untuk memuja Tuhan/Sang Hyang Widhi. Perpaduan tiga unsur itu secara harmonis sebagai landasan untuk terciptanya rasa hidup yang nyaman, tenteram dan damai secara lahiriah maupun bathiniah. Seperti inilah cermin kehidupan desa adat di Bali yang berpolakan Tri Hita Karana.

2.1.2 BIDANG GARAPAN

Adapun bidang garapan Tri Hita Karana dalam kehidupan bermasyarakat, adalah sebagai berikut :
 Bhuana Agung atau Karang Desa, alam atau wilayah territorial dari suatu desa adat yang telah ditentukan secara definitif batas kewilayahannya dengan suatu upacara keagamaan.
 Krama desa adat, yaitu kelompok manusia yang bermasyarakat dan bertempat tinggal di wilayah desa adat yang dipimpin oleh bendesa adat serta dibantu oleh aparatur desa adat lainnya, seperti kelompok Mancagra, Mancakriya dan pemangku, bersama – sama masyarakat desa adat membangun keamanan dan kesejahteraan.
 Tempat suci adalah tempat untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sebagai pujaan bersama yang diwujudkan dalam tindakan dan tingkah laku sehari – hari. Tempat pemujaan ini diwujudnyatakan dalam Khayangan Tiga. Setiap desa di Bali wajib memilikinya. Khayangan Tiga itu adalah Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem. Khayangan Tiga di desa di adat Bali seolah – olah merupakan jiwa dari karang desa yang tak terpisahkan dengan seluruh aktifitas dan kehidupan desa.

2.2 IMPLEMENTASI TRI HITA KARANA DALAM MASYARAKAT

Di dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali, kesehariannya menganut pola Tri Hita Karana. Tiga unsur ini melekat erat setiap hati disanubari orang Bali. Penerapannya tidak hanya pada pola kehidupan desa adat saja namun tercermin dan berlaku dalam segala bentuk kehidupan berorganisani, seperti organisasi pertanian yang bergerak dalam irigasi yakni Subak. Sistem Subak di Bali mempunyai masing-masing wilayah subak yang batas-batasnya ditentukan secara pasti dalam awig-awig subak. Awig-awig memuat aturan-aturan umum yang wajib diindahkan dan dilaksanakan, apabila melanggar dari ketentuan itu akan dikenakan sanksi hukum yang berlaku dalam persubakan. Tri Hita Karana persubakan menyangkut adanya sawah sebagai areal, ada krama subak sebagai memilik sawah, dan ada Pura Subak, atau Ulun Suwi tempat pemujaan kepada Tuhan/Sang Hyang Widi dalam manisfestasi sebagai Ida Batari Sri, penguasa kemakmuran. Desa adat terdiri dari kumpulan kepala keluarga - kepala keluarga, mereka bertanggung jawab atas kelangsungan hidup keluarganya. Setiap keluarga menempati karang desa yang disebut karang sikut satak. Disinilah setiap keluarga mengatur keluarganya. Kehidupan mereka tak lepas dari pola kehidupan Tri Hita Karana. Di setiap rumah/karang desa yang didiami di Timur Laut pekarangan ada Pemerajan/Sanggah Kemulan(Utama Mandala) tempat pemujaan Sang Hyang Widhi oleh keluarga. Bangunan Bale Delod tempat kegiatan upacara, dapur, rumah ada di madya mandala. Dan Kori Agung,Candi Bentar,Angkul-angkul,sebagai pintu masuk pekarangan terletak di batas luar pekarangan. Di samping itu ada teba letaknya di luar pekarangan sikut satak yakni untuk bercocok tanam seperti pisang, manggis, pepaya dan nangka,dan tempat memelihara hewan seperti ayam, babi, sapi, kambing dan lainnya, untuk sarana kelengkapan upacara adat. Setiap unit kehidupan masyarakat Hindu di Bali selalu di atur menurut pola konsepsi Tri Hita Karana.
Pola ini telah mencerminkan kehidupan yang harmonis bermasyarakat di Bali. Tidak saja dicerminkan dalam kehidupan orang Bali saja, juga kepada mereka yang bukan orang Bali akan diperlakukan sama oleh orang Bali. Banyak para peneliti mancanegara mengadakan penelitian tentang pola kehidupan ini. Sistemnya memang beda dan unik dibandingkan dengan masyarakat lain di Indonesia. Demikian adanya penerapan konsepsi Tri Hita Karana dalam kehidupan masyarakat Hindu khususnya di Bali. Bilamana penerapan Tri Hita Karana ini dapat ditebarkan dalam wilayah yang lebih luas di luar sana ,dan dilaksanakan secara sungguh-sungguh niscaya kesejahteraan, kemakmuran dan kerahayuan memungkinkan terwujud secara nyata. Hidup rukun sejahtera dirghayu dirgayusa, gemah ripah loh jiwani.

2.2.1 TRI HITA KARANA, KAITANNYA DENGAN “NYEPI”
Nyepi yang dilaksanakan oleh pemeluk Hindu-Bali setiap penanggal ping pisan sasih kadasa (tanggal satu bulan ke-10 menurut kalender Saka-Bali) dalam rangka merayakan tahun baru Saka, adalah salah satu pelaksanaan Tri Hita Karana. Sehari sebelum Nyepi dilaksanakan upacara tawur kasanga (bhuta yadnya pada akhir bulan ke-9). Bhuta Yadnya dalam kaitan ini berarti “korban yang diadakan untuk memohon keseimbangan dan keharmonisan alam”. Pada saat Nyepi, umat Hindu-Bali melaksanakan catur berata (empat pantangan), yaitu:
1. Amati karya (tidak bekerja)
2. Amati gni (tidak menyalakan api atau membakar sesuatu)
3. Amati lelungaan (tidak bepergian)
4. Amati lelanguan (tidak menghibur diri atau bersenang-senang)
Dengan demikian, aplikasi Tri Hita Karana dalam perayaan Nyepi terlihat dengan jelas, baik dari aspek parhyangan, pawongan, maupun palemahan:
1. Aspek parhyangan terlihat di saat Nyepi, umat Hindu-Bali melakukan samadi, dan bersembahyang memuja kebesaran Ida Sang Hyang Widhi.
2. Aspek pawongan terlihat adanya kegiatan dharma santih, yakni saling berkunjung dan bermaaf-maafan.
3. Aspek palemahan terlihat dari tujuan tawur kesanga seperti yang diuraikan di atas, dan dengan adanya catur berata, manusia tidak mengotori udara dengan gas-gas buangan hasil pembakaran atau dikenal dengan istilah emisi gas rumah kaca.
2.3 IMPLEMENTASI TRI HITA KARANA DI SUATU DAERAH ( SERIRIT )
Dalam kehidupan sehari – hari atau kehidupan suatu desa hamper seluruhnya sudah menerapkan konsep Tri Hita Karana. Contohnya saja di desa teman kami Sulis yang bertempat di Seririt , sudah banyak warga yang sadar tentang Tri Hita Karana ini. Contoh nyata yang dapat kita lihat adalah jika ada Hari Raya Galungan dan Kuningan, serrta odalan di setiap pura kita sebagai warga masyarakat pasti akan melaksanakan persembahyangan. Hal ini kita lakukan sebagai wujud bahwa kita memja dam mempercayai keberadaan Ida Sang Hyang Widi Wasa yang akan selalu memberkati dan juga melindungi kita semua. Dengan kata lain kita mewujudkannya dengan upacara yadnya. Selain itu di dalam kehidupan kita selalu berhubungan dengan lingkngan, kita harus selalu menjaga kebersihan lingkungan kita . Misalnya setiap hari Minggu kami mengadakan kerja bakti dengan warga sekitar untuk membersihkan lingkngan desa. Hal ini dapat kita masukkan dalam perwujudan kita sebagai hubungan manusia dengan lingkungan ( palemahan ) dalam bentuk kepedulian. Dan kita juga sering melaksanakan upacara bhuta yadnya , hal ini kita lakukan agar kita tidak diganggu oleh makhluk halus lainnya, dapat kita laksanakan dengan meaturan canang sari dibawah ( di tanah ) dan ngejot. Dan yang terakhir adalah hubungan antara manusia dengan manusia. Kita sebagai makhluk sosial tentu sudah ditakdirkan tidak dapat hidup sendiri tanpa bantual dari orang lain. Dalam kehidupan ini seharusnyalah kita selu saling menghormati dan menghargai antar sesama agar tercipta suatu keharmonisan dalam kehidupan ini. Namun tidak selamanya kita bisa mewujudkan keharmonisan tersebut, karena banyak juga kita jumpai masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan dan menghormati sesame dan yang paling penting kurang percaya dengan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Maka dari itu kita sebagai manusia harus menyadari ketiga hal tersebut agar tercipta kesejahteraan dan keharmonisan dalam suat masyarakat .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar